
Ketika penyakit datang menerpa, apa yang lebih dulu Anda lakukan?
Sebagian orang memilih langsung mencari obatnya. “Padahal, bukan begitu
yang dicontohkan Rasulullah,” ungkap dr.Agus Rahmadi.
Rasulullah menuntun kita untuk terlebih dulu memohon kesembuhan
kepada Sang Khalik. Ajaran itu sering kali justru diabaikan orang yang
sakit dan juga keluarganya. “Kalau cara ini-itu tidak berhasil, mereka
baru berdoa,” sesal dokter dari Klinik Sehat ini.
Mempelajari tuntunan Rasulullah dalam bidang kesehatan, dr.Agus
mencoba memperkenalkan kembali pendekatan kedokteran Islam. Beragam
penyakit yang akrab dengan keseharian masyarakat telah ada solusinya.
Berikut penjelasannya.
Batuk
Dalam Alquran, madu termasuk obat yang berkhasiat. Madu aman diberikan
untuk segala jenis penyakit. “Termasuk batuk,” ungkap dr.Agus.

Akan tetapi, kalangan kedokteran konvensional ada yang berpendapat
sebaliknya. Mereka beranggapan madu justru dapat memancing batuk. “Madu
tidak akan memperberat penyakit,” tegas alumnus Universitas Diponegoro
ini.
Batuk merupakan mekanisme tubuh untuk membersihkan saluran
pernapasan. Makanan dan minuman yang manis, berminyak, dan bergetah
memang dapat merangsang timbulnya batuk. “Tetapi, meski manis, madu
tidak termasuk yang patut dihindari,” ujar dr.Agus.
Mengapa demikian? Sebab, dalam madu, terdapat empat zat yang memberi
efek antibiotik pada tipus, batuk dan pilek, penyakit saluran kencing
serta diare, dan infeksi kulit. “Sama saja seperti pemberian obat
penekan batuk yang harus diresepkan bersama antibiotik,” urai dr. Agus.
Dalam pengobatannya, ada beberapa bahan alami yang bisa diperoleh
khasiatnya. Terapi jus ini juga bisa diberikan kepada anak-anak.
“Berikan jus pepaya, nanas, jeruk lemon, jahe, dan madu,” ujar dr.Agus.
Diabetes
Dalam ilmu kedokteran Islam, lanjut dr.Agus, ada empat prinsip dasar
yang harus ditegakkan untuk menghadapi penyakit. Pertama, kembalikan
segala masalah kepada Allah SWT. “Kedua, ikuti pola hidup Rasulullah.”

Prinsip ketiga, jus terapi. Ada banyak buah dan sayur yang jika
dikombinasikan secara tepat dapat mendatangkan efek obat. “Keempat,
pergunakan obat-obatan herbal,” ucap dr.Agus.
dr.Agus mengingatkan konsumen kesehatan agar berhati-hati dalam
mengonsumsi obat. Kehalalan obat perlu diperhatikan. “Banyak obat haram
yang beredar dan diresepkan dokter.”
Banyak orang berdalil, kandungan haram pada obat tak perlu
dipermasalahkan. Apalagi, itu ditujukan untuk darurat pengobatan. “Tapi,
masa, darurat berkepanjangan?” tanya dr.Agus retoris.
dr.Agus mencontohkan obat sirup, semisal obat batuk. Masih banyak
produsen obat yang menyertakan alkohol dalam sediaannya. “Kalau ada
penggantinya, mengapa bertahan memakai bahan yang haram,” kata dr.Agus.
Lantas, bagaimana implementasinya untuk diabetesi? dr.Agus tidak
menyarankan penggunaan glibenklamid dan metformin yang biasa diresepkan
bagi orang dengan diabetes. “Obat itu bukannya menutrisi, malah
memaksa pankreas yang sedang rusak untuk terus memproduksi insulin,”
cetusnya.
Semestinya, sel-sel pankreas yang mengalami kerusakan diberi nutrisi
agar bisa kembali pulih. Protein, dalam hal ini asam amino yang
spesifik, yakni arginin, harus diperbanyak konsumsinya. “Itu ada di
jintan hitam dan kacang panjang,” ungkap dokter umum ini.
Sedangkan, terapi jus dapat dijalankan dengan campuran bahan alami
yang mudah didapat. Buat saja jus dari dua batang pare, tiga kacang
panjang, dua buah wortel, dan sejumput taoge serta kacang kedelai.
“Kalau belum cukup memberi khasiat, bisa ditambahkan parenya sembari
mengonsumsi obat herbal,” papar dr.Agus.
Untuk diabetes, dr.Agus menyebutkan ada kapsul diabetes yang dapat
dimanfaatkan. Isinya campuran daun salam, mimba, daun alpukat,
sambiloto, mengkudu, daun imbau, dan daun jamblang. “Tentunya,
penggunaannya harus dibarengi dengan doa, olahraga, shalat malam, dan
puasa,” tandasnya.
Kolesterol
Sampai kapan orang dengan kolesterol tinggi harus mengonsumsi obat?
dr.Agus mengatakan, dalam ilmu kedokteran konvensional, obat penurun
kadar kolesterol harus diminum seumur hidup. “Biasanya, yang diresepkan
dokter, simfastatin.”

Obat tersebut tidak diperlukan manakala pasien mau melakukan empat
prinsip tadi. Pendekatan tersebut tidak memiliki efek samping. “Berpuasa
seperti Nabi Daud AS besar manfaatnya bagi orang yang kolesterolnya
tinggi,” kata Direktur Klinik Sehat ini.
Namun, puasa saja tidak cukup ampuh untuk menurunkan angka kolesterol
dalam darah. Anda masih harus menjalankan diet rendah minyak, santan,
ayam, dan jeroan. “Lalu, manfaatkan rambut jagung, bawang putih, kunyit,
kedelai, wortel, temulawak, dan biji bunga matahari untuk menghancurkan
kolesterol agar tidak terbentuk plak di saluran pembuluh darah,” jelas
dr.Agus.
Hipertensi
Tekanan darah Anda tinggi? Coba kembangkan senyum dengan ikhlas, 20 kali selama 20 detik, setiap hari.
Saran dr.Agus mungkin terdengar aneh. Namun, sesungguhnya, dalil
ilmiahnya jelas. “Saat tersenyum, endorfin keluar dan melebarlah dinding
pembuluh darah.”

Lantas, jalankan diet rendah lemak dan rendah garam. Sebagai
pelengkap, konsumsilah mentimum yang dijus bersama sejumlah sayuran dan
buah lainnya. “Campur dengan bawang putih, semangka, belimbing, dan
seledri,”ucap dr.Agus.
Sumber : Republika Online